Perlu diketahui bahwa setiap anak berkelaina mempunyai indentifikasi tersendiri, dan berikut indentifikasi khusu anak tunarungu-wicara adalah:
Berbagai metode atau
cara alat unntuk kepentingan mengetahui tingkat ketajaman pendengaran terus
berkembang sejalan dengan kemajuan teknologi terutama teknologi elektronika.
Awalnya untuk mengetahui kemampuan mendengar seseorang digunakan metode bisikan
(whisper test), kemudian tes pendengaran dengan menggunakan suara detak jam
(watch test). Metode kedua test tersebut banyak mengandung kelemahan, maka
dikembangkanlah tes lain dengan
menggunakan garpu tala yang dapat untuk
mendiagnosis apakah tunarungu kondusif (air conduction dan bond conduction)
atau neural, yang dikenal dengan tes Weber, Rine, dan Schwabach. Sejalan dengan
kemajuan IPTEK maka diciptakanlah suatu alat diagnosis tingkat ketajaman
pendengaran yang di kenal dengan Audiometer. Alat elektonik ini cukup akurat
untuk mendiagnosis tingkat ketajaman pendengaran seseorang baik dengan hantaran
udara maupun tulang, ketajaman telinga kiri maupun kanan dapat di ketahui.
Hasil test ini dinyatakan dengan satuan deciBell (dB).
Sumber: Purwanto,
Heri.1998.Ortopedagogik Umum.Yogyakarta:FIP
IKIP Yogyakarta

0 komentar:
Posting Komentar