Anak
yang mengalami ketunarunguan akan menanggung konsekuensi sangat kompleks,
terutama berkenaan dengan masalah kejiwaannya. Kondisi ini menjadi tidak
menguntungkan bagi penderita tunarungu yang harus berjuang dalam meniti tugas perkembangannya.
Penderita akan mengalami berbagai hambatan dalam meniti perkembangan, terutama
dalalm aspek bahasa, kecerdasan, dan penyesuaian sosial. Oleh karena itu, untuk
mengembangkan potensi anak tunarungu secara optimal praktis memerlukan layanan
atau gantuan secara khusus.
Proses
internalisasi suara pada seseorang yang mengalami ketunarunguan lmengalami
mlasalah sebab pendengaran dibagian luar, bagian tengah, dan bagian dalam yang
menghubungkan ke saraf pendengaran sebagai organterakhir dari rangkaian proses
pendengaran seagai organ terakhir dari rangkaian proses pendengaran mengalami
gangguan. Tergantungnya organ ini berpengaruh terhadap kepekaan penerimaan
suara. Variasi kepekaanmenerima suara berupa kepekaan suara nada rendah dan
nada tinggi.
Ada
dua bagian penting mengikuti dampak terjadinya terjadinya hambatan sebaimana
diuraikan diaas. Pertama,konsekuensi akibat gangguan pendengaran atau tunarungu
tersebut bahwa penderitaannya akan mengalamikesulitan dalam menerima segala
macam rangsang bunyi tersebut konsekuensinya penderita tunarungu akan mengalami
kesulitan pula dalam memproduksi suara atau bunyi bahasa yang terdapat
disekitarnya.
Bertolak
pada kedua kesulitan pada seseorang yang mengalami ketunarunguan, maka
kehilangan pendengaran bagi seseorang sama halnya mereka telah kehilangan
sesuatu yang berarti, sebab pendengaran merupakan kunsi utama pembuka tabit
untuk dapat meniti tugas perkembangannya secara optimal. Atas dasar itulah anak
tunarungu yang belum terididik dengan baik, tampak pada dirinya seperti
terbelakang, walaupun halotu sebenarnya masih semu (psedoretardation), serta
tampak tidak komunikatif.
Sebagaimana
diketahui , peranan bahasa, bicara, pendengaran dalam konteks komunikasi
kehidupan sehari- hari merupakan tiga serangkaian potensi manusia yang mampu
menjemgatani proses komunikasi, sebab ketiga unsur tersebut dalam proses
komunikasi masing-masing dapat menjadi penontrol efektif dan tidaknya sebuah
komunikasi. Oleh sebab itu kepincangannya salah komponen, komunikasi tersebut
tersebut berarti kehilangan kontributor besar yang dapat membantu manusia dalam
meniti fase-fase tugas perkembangannya.
Banyak
angapan bahwa anak berkelainan pendengaran atau anak tunarungu diantara
penderita kelainan yang lain dianggap yang paling ringan, sebab gangguannya
hanya terjadi pada aspek pendengaran. Kompensasi dari indra yang hilang dapat
dialihkan kepada indra yang lain masih cukup luas. Namun demkian tetap saja,
prinsip “kehilangan” pada salah satu potensi alat indranua akan berakibat pada
pengembangan potensi yang lainnya. Penderita tunarungu seringan apa pun
kondisinya tetap tidak luput dari ptoblem masalah yang mnyertainya terutama
yang berkaitan dengan masalah kemampuan fisiknya ylang lain, kejiwaan dan
penyesuaian sosial dengan lingkungan.

0 komentar:
Posting Komentar