Senin, 21 Oktober 2013

Klasifikasi Anak Tunarungu-Wicara

Dalam tunarungu-wicara terdapat klasifikasi, berikut klasifikasi anak tunatungu-wicara:

1.      Tunarungu

Secara garis besar tunarungu dapat di bedakan menjadi 2 yaitu tuli (deaf) dan susah mendengar (hard of hearing). Sedangkan berdasarkan tingkat kehilangan ketajaman pendengaran dapat di ukur dengan Audiometer yang mempunyai satuan desiBell (dB) dapat di bedakan menjadi:

a.       Sangat ringan (Light)              25 dB – 40 dB
b.      Ringan (Mild)                         41 dB –
55 dB
c.       Sedang (moderate)                  56 dB – 70 dB
d.      Berat (severe)                          71 dB – 90 dB
e.       Sangat berat (profound)          91 dB – lebih
2.       Tunawicara

Pengelompokan tunawicara secara umum dapat dikemukaan sebagai berikut:
a.       Keterlambatan  bicara (delsyed speech)
Yaitu seseorang anak yang mengalami ketrlambatan dalam perkembangan wicaranya disbanding dengan anak normal seusianya. Perkembangan bicara pada normal biasanya diakhiri pada usia 6 tahun dimana fonem “R” harus sudah dapat di ucapkan. Pada anak normal umur 3 tahun sudah dapat mlerangkai kalimat yang terdiri dari subyek, predikat dan obyek.

b.      Gagap (stuttering)
Adalah kelainan atau kesulitan dalam memulai pembicaraan dapat berupa pemanjangan fonem atau suku kata depan (prolongation), pengulangan fonem atau suku kata depan (repetion), disamping itu ada gerak mulut berbicara tetapi tidak keluar suara (silent stuggle). Pada kelompok ini  juga termasuk pada kekacauan dalam berbicara (cluttering), dapat berupa bicara terlalu cepat , struktur kalimat tidak karuan atau repetisi yang berlebihan.

c.       Kehilangan kemampuan berbahasa (dysphasia)
Ada berbagai bentuk dysphasia mulai dari kesalahan dalam inti penbicaraan sampai tidak dapat berbicara “ra” (bahasa lisan) sama sekali.

d.      Kelainan suara (voice disorder)
Kelainan ini ditandai oleh adanya perbedaan bicara dengan bicara anak normal. Adapun kelainan suara ini meliputi: Kelainan nada (pitch) dapat berupa nada tinggi, rendah dan monoton. Kelainan kualitas atau warna suara yang berupa serak, lemah dan desah. Kelainan keras lembutnya suara (loudness) dapat berupa suara keras (hard voice) dan suara lembut (soft voice).



Sumber: Purwanto, Heri.1998.Ortopedagogik Umum.Yogyakarta:FIP IKIP Yogyakarta

0 komentar:

Posting Komentar