Para
pakar umumnya mengakui, bahwa pendengaran dan penglihatan merupakan indra
manusia yang amat penting, disamping indra lainnya. Begitu besar fungsi kedua
indra tersebut dalam membantu setiap aktivitas manusia, sehingga banyak orang
yang menyandingkan kedua jenis indra tersebut dwetunggal. Akibatnya, jika
seseorang kehilangan salah satu diantaranya maka sama artinya ia harus
kehilangan sesuatu yang sangat berharga dalam hidupnya. Terlebih lagi jika
gilang keduanya, dapat diibaratkan yang bersangkutan telah menghadapi “kiamat
kecil” dalam hidupnya.
Kedua
macam indra (penglihatan dan pendengaran) memiliki jangkauan yang sangat luas.
Oleh karena itu, ank yang kehilangan salah satu (khususnya kehilangan
pendengaran) maka tidak bedanya ia seperti kehilanan sebagian kehidupan yang
dimilikinya. Untuk menggantinya dapat dialihkan pada indra penglihatan sebagai
kompensasinya. Itulah sebabnyam cukup beralasan jika para ahli berpendapat
indra penlihatan bagi anak tunarungu memiliki urutan terdepan, karena memang
memiliki peranan yang sangat penting, baru kemudian disusul dengan indera-indera
yang lainnya.
Apapun
keistimewaan yang dimiliki oleh kedua indera tersebut sebagai indera terdepan
manusia, namun tetap saja keduanya memiliki keterbatasan tertentu sesuai dengan
karakteristiknya. Penglihatan mempunyai karakteristik arah jangkaunnya terpusat
pada bidang dimukanya, dibatasi oleh ruang spasial, bersifat statis dan
menetap. Sedangkan pendengaran mempunyaikarakteristik dapat menjangkau segala
arah, bersifat temporal, tidak dibatasi oleh ruang.
Khusus
kelebihan yang lain dari indera pendengaran berdasar karakteristiknya, bahwa
indera ini merupakan satu-satunya indera yang mengatur apa-apa yang dimengerti
dari lingkungannya kepada sistem saraf sehingga dalam keadaan tidur pun indra
pendengaran masih berfungsi, hal ini terbukti orang masih dapat mereaksi apa
yang didengar meskipun dalam kondisi tidur. Disamping itu, pendengaran sering
pula disebut sebagai indera latar belakang, karena pendengaran seseorang dapat
meramalkan sesuatu yang belum tampak wujudnya. Oleh sebab itu, jika melalui
suara menunjukkan tanda-tanda yang dapat mebahayakan, misalnya kentongan tanda
bahaya, letusan gunung berapi, pohon tumbang, dan lain sejenisnya maka seseorang
dapat bersiap siap untuk menyelematkan diri.
Anak
yang mengalami kelainan pendengaran atau tunarungau, kecakapan dan pengalaman
seperti diuraikan diatas barang kali
tidak memiliki. Kalaupun ada minim sekali, sehingga sulit baginya untuk
menghadapi sesuatu yang terjadi hanya dengan mengandalkan pendengarannya.
Segala peristiwa atau kejadian yang ada di lingkungannya tampak olehnya banyak
yang tiba-tiba membuka pintu tanpa tahu bagaimana proses sebelumnya. Dengan
demikian, praktis pengalaman yang diperolehnya hanya tergantung pada indra
penglihatan dibandingkan indera yang lain.
Disinilah
masalahny, kondisi ktunarunguan yang dialami aoleh seseorang mendorong yang
bersangkutan harus mencarai kompensasinya. Mata sebagai sarana yang berfungsi
sebagai indera penglihatan merupakan merupakan alternatif yangutama sebelum
yang lainnya. Peranan penglihatan, selain sebagai sarana memperoleh pengalaman
persepsi visual, sekaligus sebagai ganti persepsi auditif anak tunarungu. Dapat
dikatakan hilangnya ketajaman bagi anak tunarungu akan membuat dirinya sangat
tergantung pada indera penglihat.
Akibat
dari kondisi ketunarunguan dapat berpengaruh terhadap perkembangan bahasa,
kondisi kecerdasannya, serta soioal dan emosionalnya. Kondisi ini sekaligus
merupakan ciri khas yang dimiliki oleh anak tunarungu pada umumnya. Sundres
(1980) menyimpulkan bahwa sifat khas yang tampak pada anak tunarungu yakni
adanya keragu-raguan dalam melakukan tidakan dan menarik kesimpulan sehingga
konsisi ini akan berpengaruh juga pada perubahan perilakunya.
Sivernon
(1967) berpendapat bahwa, anak tunarungu yang kemampuannya terbatas akan
memperlihatkan banyak sekali keterlembatan dalam menguasai beerapa atau lebih
konsep-konsep abstrak, akibatnya akan berpengaruh terhadap kemampuan sosial
emosinya.
Sumber:
Sardjono, 2000. Orthopedagogik Tunarungu I. Surakarta: UNS Press

0 komentar:
Posting Komentar